Belajar Mengendalikan Emosi

Belajar Mengendalikan Emosi
Oleh: Rumah Shine | 02 December 2010
| 13:13 WIB





Suatu kali, Dalai Lama, salah seorang pemimpin spiritual yang sangat dikenal oleh dunia dan pernah mendapatkan nobel perdamaian dunia, berkata seperti ini,”Yang membedakan kita sebagai manusia adalah kita mampu mengubah pikiran dan emosi kita menjadi positif”. Kalau ditarik kesimpulan dari perkataan beliau adalah kita mendapatkan satu kelebihan khusus sebagai ciptaan yang paling berharga yaitu kelebihan untuk mengelola perasaan atau emosi kita. Hidup manusia dalam berelasi sangat
dipengaruhi oleh emosi. Kalau emosi sedang tidak baik maka berelasi dengan orang lain juga pasti tidak akan baik, sebaliknya begitu, kalau emosi kita sedang baik maka kita akan mudah berelasi dengan orang lain. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan emosi?

Menurut Wikipedia, Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, Emosi adalah luapan perasaan yg berkembang dan surut dl waktu singkat; keadaan dan reaksi
psikologis dan fisiologis (spt kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yg bersifat subjektif. Eastwood Atwater, penulis buku Psychology of Adjustment, mengartikan emosi sebagai suatu kondisi kesadaran yang kompleks, mencakup sensasi di dalam diri dan ekspresi ke luar yang memiliki kekuatan
memotivasi untuk bertindak. Berarti dapat dikatakan, emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia khususnya dalam hal berelasi. Bayangkan bagaimana seandainya relasi antarpribadi
berlangsung tanpa disertai emosi: kita berkomunikasi dengan ekspresi datar, tanpa lonjakan perasaan.
Kata “emosi” diturunkan dari kata bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, ‘kegembiraan’ dari bahasa
Latin emovere, dari e- (varian eks-) ‘luar’ dan movere ‘bergerak’ Kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu daripada suasana hati. Emosi adalah hasil reaksi dari sebuah pemicu. Dibalik kemunculan emosi, selalu ada alasan yang melatarbelakanginya. Setiap manusia dimuka bumi ini pasti memiliki emosi. Tuhan memberi emosi dalam diri manusia dengan tujuan tertentu. Semua emosi (marah, sedih, tertekan, gembira, bahagia) pasti memiliki kegunaan. Emosi yang ada dalam diri manusia merupakan gabungan dari faktor fisiologis maupun faktor proses mental (kognitif). Jadi posisi emosi itu netral, bagaikan sebuah
pisau yang tajam, apakah kita mau menggunakan untuk mengupas buah atau untuk menyakiti orang lain,
tergantung bagaimana kita menggunakannya.


Kita dapat menelusuri apa yang membangkitkan emosi kita: adakah faktor fisiologis yang ikut berperan?
Seperti makanan, minuman yang kita konsumsi atau obat tertentu yang memengaruhi fisiologi tubuh kita?
Apakah faktor hormonal, misalnya haid, menopause, andropause? Bila kesemuanya ini tidak ada berarti emosi kita benar-benar dipicu oleh situasi sosial yang ada. Dengan mengenali asal muasal emosi seperti itu, kita dapat lebih mengendalikan emosi. Contohnya Seorang wanita yang menjadi mudah marah menjelang atau sedang haid. Bila ia menyadari dampak situasi fisiologis haidnya, ia lebih dapat mengendalikan diri untuk tidak marah meski ada pemicu dari lingkungan sosialnya (pekerjaan tidak lancar, anak membuat kecewa, dsb). Bayangkan bila kemarahan itu kita lepaskan begitu saja, mungkin situasi justru berkembang tidak menguntungkan. Seperti ucapan Dalai Lama, bahwa manusia bisa mengubah pikiran dan emosi menjadi positif, maka kita perlu mengekspresikan emosi dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan.


Kita memiliki kebebasan untuk mengendalikan emosi kita. Bila kita dapat mengendalikan emosi, berarti kita juga mengendalikan perilaku. Tanpa pengendalian emosi, tujuan hidup dalam jangka panjang mungkin tidak tercapai akibat perilaku kita berakibat fatal. Jadi selama kita bisa mengendalikan emosi dengan baik, maka kehidupan kita akan berjalan lancar. Bila kita tidak mampu, maka akan kita terjebak oleh kesalahan kita sendiri yang tidak mampu mengendalikan emosi.







Sumber:
Wikipedia
Kamus besar Bahasa Indonesia
Buku Emotion For Success karya Joshua
Iwan Wahyudi
Belajar Mengendalikan Emosi Belajar Mengendalikan Emosi Reviewed by szezukeey on 05:12 Rating: 5

No comments:

wanted

Powered by Blogger.